Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Kisah Rasulullah Menjelang Ajal

Rabu, 05 Maret 2014
Posted by Unknown
Mari kita simak sebuah kisah yang sangat mengharukan... dan mungkin akan membuat kita menitikkan air mata....

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum --peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa Rosuulillah wa salim 'alaihi subhanallaaaah....

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

lalu pengorbanan apa yang bisa kita berikan pada beliau?????

Memberdayakan Mutu pendidikan islam

Jumat, 28 Februari 2014
Posted by Unknown
“Rendahkah mutu pendidikan kita ?” Jawabnya:  ya dan tidak. Jika standar mutunya Nilai Ebtanas Murni (NEM), maka memang rendah. Bagaimana tidak, ketika NEM digunakan sebagai standar dengan nailai rata-rata 6,0 sebagai batas kelulusan, maka siswa SMU yang lulus tidak sampai 15 %. Dan bila nilai rata-rata itu diturunkan menjadi 5,0 sebagai batas kelulusan, maka yang lulus tidak sampai 25 % (Samani, 2003, 1).


Untuk komparasi berskala internasional kondisinya juga tidak jauh berbeda. Human Development Index (HDI) Indonesia berada pada peringkat 102 dari 106 negara yang disurvai, satu tingkat di bawah Vietnam. Survai The Political Economic Risk Colsultation (PERC) menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 12 dari 12 negara yang disurvai, juga satu tingkat di bawah Vietnam (Samani, 2003, 1).
Bahkan ITB yang dianggap sebagai perguruan tinggi teknologi terbaik di Indonesia, ternyata hanya berada di peringkat ke 21 dari 39 perguruan tinggi teknologi di Asia dan Australia. Universitas Indonesia yang konon juga terbaik di negeri ini, ternyata hanya berada di peringkat ke 61 dari 77 universitas yang disurvai oleh Asiaweek (Samani, 2003, 1).
Namun sungguh aneh tatkala kita perhatikan prestasi individual bangsa kita. Sebagai contoh: mahasiswa Program D3 Politeknik Elektronika ITS mampu menjuarai kontes robotik internasional di Jepang, dengan mengalahkan saingan-saingannya dari seluruh dunia yang sebagian besarnya dari program S1. Siswa SMU kita juga mampu menjadi juara pada Olimpiade Fisika Internasional (IphO) juga bidang Biologi (IBO). Banyak pula pemuda Indonesia yang mampu meraih predikat cumlaude, summa cumlaude, bahkan distinguish ketika mengikuti studi di luar negeri (Samani, 2003, 1). Kita juga punya tokoh kaliber dunia, seperti Bung Karno, M. Natsir, Soedjatmoko, BJ. Habibie, Gus Dur, Nurcholish Madjid dan lain-lain.
Terjadi keadaan yang paradoksal antara prestasi individual dan kualitas institusional. Mengapa ketika di negara lain orang Indonesia mampu berprestasi baik, sementara di negeri sendiri tidak ? Dapat dikesankan, bahwa sebenarnya potensi bangsa Indonesia itu umumnya baik, tetapi mutu dan manajemen kelembagaan pendidikan kita yang masih rendah.
Kalau begitu pertanyaan lebih ekstrim dapat dimajukan: “Gagalkah sistem pendidikan kita ?”  Ya, demikian jawaban Mendiknas Prof. H.A. Malik Fajar, M.Sc. dengan argumen bahwa sementara masjid-masjid dan berbagai majelis ta’limmenjamur subur, namun kejahatan dan kemerosotan moral juga marak di mana-mana. Maka menurutnya harus ada reformasi besar-besaran terhadap sistem pendidikan Indonesia. Dibentuklah sebuah tim evaluasi dan inovasi sistem pendidikan nasional dengan meninjau kembali Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) nomor 2 tahun 1989 untuk mengajukan rancangan perubahannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR.).
Penulis tidak sepenuhnya setuju dengan istilah gagal bagi pendidikan kita, sebab argumen Mendiknas tersebut akan goyah manakala diterapkan untuk menilai dakwah para rasul yang juga menjadikan umatnya terbelah dua, yakni kelompok orang taat yang minoritas, dan golongan orang bejat yang mayoritas. Lalu, gagalkah para rasul itu ? Memang mengajak kepada kebaikan itu lebih sulit dibanding mengajak ke kejahatan. Apakah yang berjamaah ke masjid ataupun yang mengikuti majelis ta‘lim itu juga yang melakukan kejahatan dan yang merosot moralnya ? Belum ada penelitian tentang hal ini, tetapi survai mengindikasikan, bahwa mereka yang tekun beribadah dan rajin ke pengajian bukanlah yang nakal dan melakukan kejahatan. Walaupun demikian, karena tuntutan zaman, penulis setuju dengan upaya Mendiknas tersebut, yakni perlunya dilakukan dekonstruksi terhadap sistem pendidikan nasional, termasuk di dalamnya pendidikan Islam dalam rangka “Memberdayakan Mutu Pendidikan Islam”.
KEKELIRUAN KITA
Sebelum melakukan dekonstruksi (atau apapun istilahnya) terhadap sistem pendidikan kita, terlebih dahulu diperlukan deteksi terhadap kemungkinan adanya kesalahan yang terjadi selama ini. Ada temuan menarik berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan kita, yaitu adanya “kekeliruan” yang dapat dianggap sebagai lampu kuning tanda bahaya bagi penyelenggara pendidikan, yakni:
Orientasi sekolah (School Oriented)
Benar bahwa sekolah (mencakup semua jenis dan jenjang, termasuk perguruan tinggi; selanjutnya cukup disebut sekolah) merupakan salah satu lembaga pendidikan yang cukup dominan bagi upaya pendewasaan anak. Namun apabila sudah ada anggapan orangtua, bahwa sekolah adalah satu-satunya lembaga pendidikan andalan bagi anaknya, seraya mengabaikan lembaga pendidikan yang lain (yaitu keluarga dan masyarakat), maka berarti lampu kuning tanda bahaya sudah menyala. Hal ini terutama amat mungkin terjadi di kalangan orangtua karir, lantaran padatnya kesibukan sampai tidak sempat lagi memperhatikan keadaan anaknya sehari-hari dan malah menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah, lebih-lebih ditopang oleh mulai menjamurnya fullday school (sekolah sehari penuh dan bukan fullday education/ pendidikan sehari penuh) di beberapa kota. Jika ini yang terjadi, maka berarti orangtua tersebut hanya mendidik anaknya dengan sepertiga kesempatan yang ada dan secara tak disadari telah menyerahkan secara bulat duapertiga pendewasaan anaknya kepada “kemasa bodohan” keluarga dan lingkungan masyarakatnya. Padahal pembentukan kepribadian anak sebagian besar ditentukan oleh proses pendidikan yang berlangsung dalam keluarga dan di tengah masyarakat. Betapapun baiknya sekolah, jika tak didukung oleh suasana kondusif dalam keluarga dan masyarakat, apa yang diperoleh dari sekolah tersebut akan tak berarti apa-apa. Dalam perjalanan sejarah pendidikan para ulama, termasuk beberapa tokoh dunia yang berkepribadian tinggi, ternyata tidak diproduk oleh sekolah. Karenanya kita harus mengupayakan adanya usaha sinergis, terpadu dan seimbang antara sekolah, rumah/keluarga dan masyarakat dalam mendidik anak.
Orientasi kognitif (Cognitive Oriented)
Hampir semua sekolah yang ada saat ini mengutamakan pendekatan kecerdasan dan pendadaran intelektual (cognitive domain) sebagai sasaran pokok proses pembelajaran, seraya mengabaikan pembentukan watak dan sikap (affective domain) dan pelatihan keterampilan (conative/psychomotoric domain). Bahkan Roem Topatimasang menganggap sekolah sudah mati, karena tidak lagi berfungsi dan sanggup menggarap kepribadian manusia secara utuh. Justru sekolah saat ini hanya membentuk banyak orang berwatak setengah manusia, seperempat binatang dan seperempatnya lagi setan (Bahtiar, 2000, 105-107). Memang saat ini banyak orang cerdas lantaran bersekolah, tapi tak lagi banyak yang bermoral (beneh-Jawa).
Orientasi pekerjaan (Job Oriented)
Semua orang butuh pekerjaan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Oleh karenanya diperlukan sekolah/lembaga pendidikan yang melatih keterampilan bekerja secara baik (profesional). Namun jika pekerjaan sudah menjadi orientasi dalam proses pendidikan, berarti lampu kuning tanda bahaya sudah menyala. Sebab beberapa kemungkinan bisa terjadi,pertama: jika yang berorientasi pekerjaan adalah lembaga pendidikan sedang kenyataan menunjukkan, bahwa lapangan kerja makin menyempit, sementara pihak lembaga tetap saja memproduk lulusan calon pekerja tanpa melakukan surveydan analisis kebutuhan tenaga dan lapangan kerja, maka pastilah akan terjadi penumpukan pengangguran calon pekerja;kedua: bila yang berorientasi pekerjaan adalah orangtua dengan dalih agar anak dapat meneruskan profesi orangtuanya, sementara si anak sendiri kurang berminat membidangi pekerjaan tersebut, ini berarti akan memasukkan anak ke dalam neraka pendidikan, lantaran selama bersekolah/kuliah minatnya tidak tumbuh secara alami sesuai bakat-minatnya sendiri, melainkan tersiksa oleh keterpaksaan yang datang dari ambisi orangtuanya; dan ketiga: bila orientasi pekerjaan berasal dari lingkungan pergaulan, lalu secara massal mereka memasuki lembaga pendidikan kejuruan dengan obsesi akan mendapat pekerjaan setamatnya nanti, maka berarti membuka peluang pengangguran lebih besar lantaran menumpuknya satu jenis profesi yang justru akan menjadi arena persaingan antar suatu komunitas. Oleh karena itu, hendaknya pekerjaan jangan menjadi acuan orientasi yang dapat mengkristal menjadi sikap mental negatif-pasif, melainkan cukuplah sebagai kemungkinan alternatif saja.
Pembelajaran dini (Early Schooling)
Saat ini kita saksikan banyak taman kanak-kanak (TK)  yang menawarkan kurikulum kompetitif dengan berbagai ragam mata pelajaran andalannya. Bahkan banyak bermunculan pondok anak-anak yang tak kalah getol mempopulerkan lembaga pendidikannya dengan berbagai tawaran menarik. Walhasil, demi memenangkan persaingan guna memperoleh murid sebanyak-banyaknya, dipromoisikanlah program pembelajaran yang membikin anak balita terkesan cerdas. Anehnya banyak orangtua tertarik dan memaksakan diri dan anaknya untuk disekolahkan ke TK favorite atau dipondokkan ke pondok pesantren anak yang terkenal. Dalam seminar nasional di IKIP Jakarta beberapa tahun yang lalu, para pakar pendidikan telah melontarkan kritikan terhadap TK yang memprogramkan pembelajaran bagi siswanya. Usia balita bukan untuk diajari pengetahuan, tapi seharusnya hanya diajak bermain dan bernyanyi yang di dalamnya ditanamkan nilai-nilai pendidikan. Sebab pembalajaran dini dapat merugikan anak itu sendiri di kemudian hari, bisa terjadiintellectual cramming, pendewasaan dini, atau bahkan kematian dini. Beberapa pakar pendidikan di Yogyakarta juga sempat gusar menanggapi adanya pesantren anak-anak, sebab secara tidak disadari telah terjadi pelanggaran hak asasi anak, yaitu hak untuk mendapatkan kasih sayang orang tua, terutama ibu. Belum lagi jika ternyata di pondok tersebut juga terjadi pembelajaran dini, maka akan terjadi kecemasan ganda bagi masa depan anak, yaitu generasi yang tumbuh dengan kurang kasih sayang dan mengalami intellectual cramming (lihat misalnya disertasi promosi doktor H. Imam Bawani, Prof. Hj. Siti Baroroh Baried dan Prof. HA. Zaini Dahlan). Hadis Nabi tentang perintah melatih anak umur tujuh tahun untuk salat (lihat Sunan Ab>i D>aw>ud, “Kit>ab a}s-}Sal>ah”, hadis nomor 417), atau keadaan Imam Syafi‘i yang dalam usia kanak-kanak (sebagian menduga usia sembilan tahun) sudah hafal al-Qur’an (asy-Syirb>a}siy, t.t., 123), tidak dapat dijadikan argumen pembenaran terjadinya pembelajaran dini, sebab salat yang dimaksud Nabi hanyalah sekedar latihan, lagi pula usia tujuh tahun memang sudah memasuki usia sekolah, bukan pembelajaran dini lagi. Sedang Imam Syafi‘i jika benar dalam usia sembilan tahun telah hafal al-Qur’an juga tidak berarti terjadi pembelajaran dini, sebab kemungkinan beliau mulai menghafalnya sejak usia tujuh tahun. Oleh karenanya kita jangan tergiur oleh keadaan anak kita yang terkesan cerdas di usia balita dengan memasukkannya ke TK favorite atau pondok anak-anak terkenal yang menerapkan pembelajaran dini. Berilah anak hak-haknya, yaitu hak kasih sayang, hak bermain, hak bergaul dan sebagainya.
Krisis keteladanan (Pattern Crisis)
Rasulullah SAW berhasil melakukan revolusi dakwah mengubah masyarakat dari keadaan jahiliah menjadi beradab hanya dalam waktu kurang dari 23 tahun, terutama ditentukan oleh keteladanan beliau (Haikal, 1979, 93-494). Dengan kata lain, beliau sukses mendidik umat adalah dengan metode keteladanan. Sekarang ini masih adakah pendidik (guru, orangtua atau tokoh masyarakat) yang dapat diteladani. Masih adakah guru yang sanggup digugu (diikuti) dan ditiru. Padahal pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” dalam arti kalaupun ada contoh baik dari pendidik belum tentu murid mau mencontoh, apalagi tidak ada contoh, lebih-lebih jika contoh yang didapat dari pendidik justru contoh yang jelek, murid akan bertindak lebih jelek lagi. Bukan berita ganjil di telinga kita saat ini adanya orangtua selingkuh, guru berjudi, atau tokoh masyarakat korupsi dan tidakan amoral lainnya. Sementara tidak lagi banyak orangtua yang sanggup mengajak anaknya ke masjid, melainkan hanya menyuruh anaknya ke masjid; atau guru yang mampu mendampingi muridnya belajar di perpustakaan, yang dilakukan hanyalah memerintah mereka belajar di perpustakaan sementara sang guru asyik ngobrol atau bermain catur; ataupun tokoh masyarakat/muballigh yang amat piawai berceramah, namun kehidupan sehari-harinya tidak sesuai dengan isi ceramahnya.  Oleh karenanya sebelummengatakan, apalagi memerintahkan sesuatu, kita harus bertanya pada diri sendiri sudahkah kita melakukannya, atau setidaknya sanggupkah kita melaksanakannya. Atau kita sadarkan diri kita, bahwa apapun yang kita kata/lakukan, di belakang dan sekitar kita adalah anak didik kita yang sewaktu-waktu siap mencontohnya.
“Jual-beli” Gelar
Sungguh mencengangkan maraknya “jual-beli” gelar saat ini (yang paling marak dijual-belikan antara lain: Prof., DR. [Hc.], Ph.D., MBA, dan MM.). Benar-benar sudah menjadi virus pendidikan nasional paling berbahaya. Dan jangan lupa, bahwa ini sebenarnya termasuk salah satu strategi jitu kaum imperialis-neokolonialis untuk tetap dapat menguasai negara-negara “jajahan” mereka. Sebab dengan memperdagangkan gelar, banyak orang akan ambil jalan pintas mendapatkan apa yang selama ini sulit diperoleh, dengan cukup membayar sejumlah uang, sementara kemampuan sumberdaya mereka tetap rendah tak meningkat. Di pihak lain akan banyak orang yang semula getol memberdayakan diri dengan menempuh jenjang dan jalur pendidikan resmi dan mengeluarkan beaya besar, semakin melemah semangatnya karena jerih payah yang tak terhingga, ternyata gelar dan “gengsi” nya sama saja dengan yang diperoleh dengan cara membeli tanpa jerih payah. Atau gelar yang mulanya prestisius-bergengsi itu, jadi tak berharga lagi di mata masyarakat gara-gara inflasi dan pencemaran gelar yang dilakukan para pembeli gelar.
Dulu para pembeli gelar itu masih harus pergi ke luar negeri untuk membelinya di sana, sehingga para tetangga banyak yang tidak tahu, bahwa sebenarnya di luar negeri mereka hanya main-main dan jalan-jalan selama beberapa waktu, kemudian pulang membawa gelar (belian). Tapi saat ini bukan rahasia lagi dan bahkan tidak merupakan hal yang sulit mendapatkannya, sebab para penjual gelar itu datang ke sini, bahkan sebagian telah mempunyai agen dan penjaja di sini untuk memasarkannya kepada para peminat.
Gelar Doktor Honoris Causa (DR. Hc.) misalnya, dulu amat prestisius-bergengsi lantaran pemilik atau penerimanya benar-benar orang terpilih dan pemberinya amat selektif untuk menentukan siapa yang berhak dan layak menerimanya, karena masyarakat nantinya juga akan ikut menilai, sehingga taruhannya adalah kredibilitas lembaga pemberi. Bahkan saking selektifnya, gelar DR. (Hc) sempat lebih bergengsi daripada DR. regular (dengan studi khusus), karena ternyata pemilik/penerima gelar DR (Hc) saat itu adalah para tokoh linuwih (istimewa) di bidang mereka lantaran matang dalam pendadaran di kancah hidup praktis selama beberapa tahun dan umumnya memang lebih ahli dibanding DR. regular yang pematangannya baru tahap teoritis ditambah sedikit empiris. Sebut saja penerima DR (Hc) seperti: Soekarno, Muhammad Hatta, M. Natsir, HAMKA, Ruslan Abdulgani, Idham Khalid, Abdurrahman Wahid dll. adalah para tokoh puncak di bidang masing-masing.
Namun kini semuanya berubah, jangankan pejabat, penjahatpun dapat memperolehnya, jangankan kalangan elit, orangalitpun bisa, jangankan pengusaha buruhpun dapat, asal mau bayar sejumlah uang. Jadilah DR. (Hc) sekarang sama dengan kacang goreng, atau bahkan lebih murah (dari kacang goreng satu truck). Di mana-mana ada dan dapat diperoleh dengan mudah dan murah (menurut penuturan seorang teman cukup Rp. 1.000.000,- padahal untuk memperoleh gelar DR. [legal] saya habis sekitar Rp. 50.000.000,- belum lagi jerih-payahnya kuliah, ujian, penelitian, persyaratan TOEFL dll.)
Para penjual dan penjaja gelar itu berdalih ikut memberdayakan masyarakat. Bangsa manapun tidak ada dan tidak akan jaya-maju dengan banyaknya gelar kalau kualitasnya rendah. Bahkan akan makin terpuruk jika ternyata gelar bertebaran di mana-mana sementara penyandangnya berkualitas rendah, baik intelektual maupun moralnya. Para menerima gelar murahan, pastilah bermoral murahan pula, para penerima gelar aspal tentu bermental aspal juga. Jadi para penjual dan penjaja gelar itu hakekatnya adalah benalu, bahkan virus masyarakat yang merusak mentalitas dan moralitas bangsa hingga menjadi keropos (mau menipu diri sendiri), sombong (dengan gelar itu merasa gagah), dan licik ( memperdayai yang susngguh-sungguh meraihnya dengan susah-payah). Para penjual dan penjaja gelar sadar atau tidak, telah menjadi kaki tangan imperialis-neokolonialis yang memperbodoh rakyat sendiri demi beberapa keping dolar. Bagaimana tidak memperbodoh, sebab orang yang bodoh tetap bodoh lantaran tidak mau meningkatkan kualitas diri, sebab tokh telah merasa cukup dengan gelar yang dibelinya itu. Sementara yang sungguh-sungguh mau pinter semangatnya turun begitu membayangkan kasulitan dan beaya yang harus dikeluarkan, tapi akhirnya tohk sama gelarnya. Apapun alasannya para penjual dan penjaja gelar itu hanyalah pengejar uang, bromocorah intelektual dan kakitangan imperialis-neokolonialis. Mereka adalah pengkhianat bangsa!
Ternyata peminat gelar tersebut justru para pejabat, elit politik, dan pengusaha, serta aneh tapi nyata ada pula yang dari kalangan “ulama” (diragukan kewara’annya) dan perguruan tinggi. Mereka tidak malu, bahkan ada yang bangga dengan gelar kacang goreng itu. Jangan harap mereka malu, bahkan Rhama Aipama sang penerima gelar DR (Hc) paling gress sanggup berucap “Biarkan mereka bilang apa, gelar beli kek, mencuri kek atau apa , peduli amat, tokh ini hak saya”. Sementara si pendangdut Cici Paramida dengan agak malu-malu bilang ”Habis mau menolak dikirain sombong, tokh saya memperolehnya tidak beli, tak sepeserpun keluar uang”.  Amat disayangkan dia (Cici) mau menerimanya, karena justru image masyarakat beradab jadi miring terhadapnya. Sadarkah mbak Cici, bahwa anda dijadikan figur iklan penjaja gelar, lantaran popularitas anda yang mendunia, sehingga wajar kalau anda tidak perlu membayar, malah seharusnya mereka yang membayar mbak Cici (sekali lagi hanya karena popularitas Cici, bukan lantaran sebagai penemu atau kreator di bidang musik).
Salut buat Ebiet G Ade yang menolak pemberian gelar DR (Hc) lantaran merasa belum berhak, walaupun secara obyektif semua penikmat musik harus mengakui, bahwa sebenarnya dia layak menerima gelar tersebut karena bukan saja sebagai penyanyi ulung, tetapi dia adalah penemu dan kreator suatu jenis musik khas yang telinga kita belum pernah mendengar sebelumnya. Juga salut buat Rita Sugiarto yang menyatakan: “Seandainya saya ditawari gelar itu tentu saya senang, tapi tidak akan saya terima sebab masih ada yang lebih berhak menerimanya”. Mereka berdua adalah pemusik kawakan, dan mereka berdualah representasi musisi bermoral yang tahu kapasitas dirinya.
Untuk diketahui, bahwa DR itu haruslah penemu, kreator atapun amat sangat pakar di bidangnya. Untuk bidang musik, yang layak dan saya yakin masyarakat akan menganggukkan kepala manakala yang menerima gelar DR (Hc) adalah Rhoma Irama, Rinto Harahap, A. Rianto dan/atau Ebiet G Ade. Merekalah kreator musik, bukan sekedar pelaku apalagi hanya pelantun lagu-lagu daur ulang ciptaan orang lain tempo dulu.
Sekarang siapa yang harus malu, kita atau mereka para penerima ? Kitalah yang harus malu selagi kita masih ingin disebut masyarakat beradab, dengan cara: pertama, kampanye anti gelar. Kita yang punya gelar tak usah memakainya.Tokh orang akan tahu dan akan memilih, mana yang kapabel dan akseptabel; mana pula yang bebal dan bikin sebal; atau kedua, kampanye riwayat hidup. Semua orang yang memiliki gelar harus berani menjelaskan riwayat hidupnya (riwayat pendidikan khususnya) di depan mereka yang gelar itu dipertontonkan. Dengan demikian akan ketahuan, gelar itu asah (asli dan sah) atau aspal (asli tapi palsu).
Kita menghimbau kepada yang berwenang (terutama Mendiknas) untuk segera  mengatasi masalah ini. Bangsa kita terancam bahaya, sudah letih didera krisis ekonomi, ditambah lagi  inflasi gelar yang hakekatnya adalah tamparan krisis intelektual dan moral sekaligus.
Kita juga menghimbau kepada masyarakat beradab, janganlah diri dan bangsa ini kita kotori dengan gelar aspal atau gelar kacang goreng. Marilah kita hargai mereka yang benar-benar berprestasi, dengan atau tanpa gelar. Marilah kita hormati mereka yang memang pantas dan berhak memperolenh gelar dan tidak menyainginya dengan beli gelar murahan.
Kalau masih bisa dihimbau, kita juga menghimbau kepada para penjual, penjaja dan pemburu gelar, sadarlah bahwa apa yang anda lakukan sangat merugikan dunia intelektual, membahayakan kehidupan berbangsa, bahkan meracuni kemanusiaan yang beradab. Nantinya akan ketahuan, bahwa nilai diri kita tidak berada di gelar yang menempel tapi di prestasi yang kita capai. Kapada para penghobi gelar, sadarilah bahwa dengan menerima gelar aspal murahan itu citra anda tidak akan naik tapi malah turun, dan bahkan akan hancur oleh seleksi alam (sunnatullah).

“DEKONSTRUKSI” SISTEM PENDIDIKAN
Mempertimbangkan antara lain indikator-indikator negatif pelaksanaan pendidikan kita selama ini, seharusnya para penanggung jawab dan pelaku pendidikan berani melangkah cepat untuk merenovasi, mereformasi, bahkan mendekonstruksi sistem pendidikan nasional, terutama pendidikan Islam, dalam hal-hal yang berkait dengan:
Tujuan
Rumusan tujuan pendidikan yang selama ini indah redaksinya, muluk-muluk obsesinya (UUSPN, 2002), sehingga sulit (kalau tidak dikatakan mustahil) pencapaiannya, harus segera disederhanakan agar mudah difahami dan relatif memungkinkan untuk direalisasi, yaitu mengupayakan agar pihak terdidik beriman, bertaqwa dan mempunyai keahlian atau keterampilan. Dengan demikian akan terjadi penekanan terhadap ranah afektif plus kognitif, atau afektif plus konatif. Dan jangan terjadi pembentukan kepribadian yang hanya bermuatan kognitif plus konatif, sebagaimana umumnya produk pendidikan kita selama ini. Oleh karenanya sekolah harus mengembalikan fungsinya untuk secara integral menangani ketiga ranah kepribadian manusia, yaitu afektif sebagai prioritas utama, kognitif dan/atau konatif agar terbentuk manusia seutuhnya yang beriman, bertaqwa dan berkeahlian / keterampilan.

Kurikulum
Tujuan yang muluk-muluk berakibat gemuknya kurikulum (dalam arti sempit, yaitu bahan ajar) karena terlalu banyak yang ingin didapat. Tetapi ternyata justru sebaliknya, terlalu banyak murid yang tidak dapat apa-apa untuk bekal menghadapi kehidupan, dengan kata lain banyak murid setamat sekolah tidak memiliki keterampilan hidup. Makakurikulum ke depan harus ramping, tidak ada titipan di luar tujuan dan bakat-minat murid, serta berkesinambungan antar jenjang pendidikan. Contoh di perguruan tinggi, matakuliah ISD, IBD, IAD, pancasila dan lain-lain merupakan matakuliah titipan yang tak memberi kontribusi berarti bagi pencapaian tujuan ramping tersebut. Tentang pancasila misalnya, yakinlah bahwa orang yang agamis pasti pancasilais, tetapi tidak semua yang pancasilais pasti agamis. Diperlukan juga kordinasi antar jenjang,  sehingga tak terjadi pengulangan berlebihan seperti yang terjadi selama ini. Sekedar gambaran, matapelajaran thaharah diberikan di semua jenjang pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini jelas tidak efisien, membosankan dan menyebabkan bab-bab fiqih tak pernah tuntas dipelajari.
Metode
Tujuan dan kurikulum yang baik belum bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan murid dan sampainya misi penddikan, bila tidak didukung oleh metode yang sesuai. Perlu dipertimbangkan kemungkinan dipergunakannya secara adaptif metodeQuantum Learning (interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya)dan Quantum Teaching (penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar untuk mengubah kemampuan dan bakat alamiah murid menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain) dalam pembelajaran “agama” Islam. Metode tersebut terbukti sukses dalam pembelajaran mata pelajaran “umum” di berbagai negara selama kurun waktu duapuluh tahun terakhir.
Secara garis besar kiat-kiat untuk Quantum Learning adalah: temukan satu manfaat, berikan pujian positif untuk diri anda, ciptakan tempat yang aman untuk bekerja, sadarilah cara belajar anda, gunakan peta pikiran dan catatan: TS, anggaplah menulis sebagai hal yang menyenangkan, ketahuilah kecepatan membaca anda, berpikirlah secara kreatif dalam segala situasi, dan ingatlah untuk mengingat (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2000, 339).
Sadangkan asas utama Quantum Teaching adalah: bawalah dunia mereka ke dunia kita, antarkan dunia kita ke dunia mereka; dengan lima prinsip, yakni: segalanya berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman sebelum pemberian nama, akui setiap usaha, dan jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan. Adapun Kerangka Pembelajaran Quantum Teaching adalah TANDUR (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan) (Bobbi DePorter et all., 2002, 6-10).
          Dengan metode ini diharapkan akan diperoleh keseimbangan peran antara otak kiri (potensi IQ, logika, matematika, tatabahasa dan evaluasi)  dengan otak kanan (potensi EQ dan SQ, kreatifitas, imajinasi, seni dan musik) yang selama ini sebagian besar manusia hanya mengandalkan peran otak kiri dan kurang memanfaatkan potensi otak kanan.
Sebagaimana diketahui, bahwa aktifitas otak terbagi dalam 4 gelombang, yaitu:
Gelombang Beta: saat terjaga dan bekerja normal, berfikir logis
Gelombang Alfa: saat rileks
Gelombang Teta: saat munajat dan inspirasi kreatif
Gelombang Delta: saat tidur
Untuk diketahui, bahwa sebagian besar manusia modern sangat dominan menggunakan gelombang Beta (12 % potensi otak), padahal karya besar sering terjadi dalam situasi Alfa dan Teta. Sebut saja Archimedes yang meloncat dari bak mandi dan berlari keliling kota dengan telanjang bulat sambil berucap “eureka” (kutemukan) lantaran amat senang telah menemukan solusi berat jenis.Hal tersebut dilakukan karena dia sedang didominasi oleh gelombang Alfa dan/atau Teta, sedangkan gelombang Beta tidak berfungsi/aktif. Sayang situasi Alfa dan Teta sering tertekan akibat emosi negatif, trauma masa lalu, rendah diri, kepercayaan yang membatasi, atau kurang fokus. Namun hal ini dapat diatasi dengan latihan.
Murid
Agar semua murid (untuk semua jenjang, termasuk mahasiswa) terhantarkan dengan mudah dan cepat sampai ke tujuan yang inging dicapai, maka harus dirintiskan jalan yang tidak berliku-liku dan berbelit-belit menuju kepadanya, dengan cara menyeleksi mereka atas dasar bakat-minat dan bukan lagi atas dasar “ujian tulis kognitif” atau bahkan “tanpa seleksi”.  Untuk itu tentunya dibutuhkan  perangkat jitu dan instrumen akurat dari para pakar penjaring bakat-minat. Oleh karenanya di manapun dan apapun jenis lembaga pendidikan, haruslah disesuaikan dan diserahkan kepada bakat-minat  murid itu sendiri, jangan lagi ada pemaksaan kepada mereka dari pihak manapun.
Guru
Semodern apapun peradaban manusia dan secanggih apapun kemajuan teknologi, guru tetap diperlukan dan bahkan memegang peran penting dalam interaksi kependidikan. Namun untuk guru masa depan tidak bisa asal tunjuk dan asal mau (sehingga kucing-kucingpun diraupi), tetapi harus profesional dalam arti menguasai bidang studi tertentu (bukan guru yang “serba bisa”, yang sebenarnya berarti pula “serba tidak bisa” karena setengah-setengah) dan memahami metodologi pembelajaran sesuai bidang studinya. Karenanya persyaratan untuk menjadi guru haruslah diperketat, termasuk jenjang pendidikannya harus sesuai standar keilmuan dan kependidikan. Konsekuensi dari beratnya persyaratan untuk menjadi guru, maka gaji harus memadai menurut hukum ekonomi, sehingga tidak ada lagi guru yang berprofesi ganda karena alasan ekonomi.
Pembeayaan
Alasan paling sering dimajukan dan juga paling dapat diterima dan dimaklumi, serta paling sulit dicarikan solusinya, sebagai sebab utama terkendalanya pendidikan adalah kurangnya sumber dana. Namun jika kita mau berkaca dan mampu melakukan apa yang telah dilakukan negara-negara yang telah maju bidang pendidikannya, tentu secercah harapan dapat diwujudkan. Sebagaimana dimaklumi, bahwa lembaga pendidikan yang maju di bebrapa negara Barat dan Arab adalah lembaga pendidikan swasta (Harvard University di AS dan Jami’ah al-Azhar asy-Syarif di Mesir sebagai contohnya). Mengapa demikian ? Karena mereka tidak mengandalkan SPP sebagai sumber pendanaannya, melainkanmenghimpun donatur peduli pendidikan (di Barat) dan membudayakan wakaf di kalangan umat Islam, infaq khusus pendidikan dan menggalakkan zakat (di Arab). Sulit memang, namun nyatanya mereka bisa, sehingga kesadaran wakaf di kalangan masyarakat Arab telah begitu tinggi, bahkan ada common sense bahwa mereka malu mati sebelum wakaf (tepatnya malu kalau sampai menjelang ajal belum wakaf). Karenanya wajar jika di hampir semua negara Arab ada Kementerian Wakaf dan Haji. Memasuki era otonomi pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan Islam (terutama IAIN dan STAIN) mutlak memikirkan hal ini.
Kelembagaan
Dalam berbagai seminar direkomendasikan adanya pendidikan berasrama (lembaga pendidikan mengadakan asrama untuk peserta didik), pesantren terpadu (pesantren menyelenggarakan lembaga pendidikan “umum”) ataupun pesantren masyarakat (lembaga pendidikan melibatkan masyarakat secara aktif dalam wujud menampung peserta didik dengan ketentuan-ketentuan yang disepakati semua pihak), sebagai lembaga pendidikan paling ideal pada era globalisasi. Dengan demikian kontrol perilaku lebih dapat dilakukan, sehingga tidak hanya berlangsung pengajaran tapi juga pendidikan sehari penuh. Sesuai tujuan dan kurikulum yang diusulkan di atas, mestinya diupayakan makin banyaksekolah kejuruan  dan institut yang terencana dan terukur sesuai kebutuhan, tidak malah yang institut mengubah diri menjadi universitas.
Evaluasi
Selama ini prestasi peserta didik selalu diukur dengan hasil “ujian tulis kognitif”, atau dengan kata lain andalan penilaian terhadap peserta didik adalah hasil evaluasi kecerdasan, sehingga tidak aneh bila ada murid yang nilai pelajaran agamanya tinggi tapi tidak shalat atau bahkan nakal, karena secara intelektual (kognitif) dia memang cerdas, namun secara moral (afektif) sebaliknya. Oleh karena itu, pola evaluasi juga harus diubah dengan mengurangi evaluasi kecerdasan, dan lebih menekankan pada evaluasi proses dan prilaku.

KHULASHAH
Upaya “Memberdayakan Mutu Pendidikan Islam” terasa sangat urgen. Karenanya, sistem pendidikan kita harus didekonstruksi, sebab dalam pelaksanaannya, di samping sebagian sudah tak sesuai dengan tuntutan zaman, juga sebagiannya lagi malah terjadi kekeliruan, antara lain sekolah sentris, kognitif oriented, terpaku lapangan kerja, pembelajaran dini, krisis keteladanan dan lain-lain.
Dekonstruksi dapat dilakukan dengan mengubah orientasi beberapa faktor pendidikan, antara lain dengan penegasan tujuan, perampingan kurikulum, kemungkinan penggunaan metode Quantum, seleksi berdasarkan bakat-minat murid, meningkatkan profesionalitas dan kesejahteraan guru, menggali sumber dana alternatif berupa pembudayaan wakaf, infak dan zakat, penyelenggaraan pendidikan berasrama dalam berbagai bentuknya, menggalakkan sekolah kejuruan dan institut yang terencana dan terukur, serta mengubah pola evaluasi.


HATI - HATI : ADA LAMBANG YAHUDI DI SAJADAH ANDA !

Sabtu, 22 Februari 2014
Posted by Unknown
Freemason


Bismillahirrohamanirroihim .

Artikel ini juga telah dikutip dari 'efairy-holywar' dan beberapa rangkaian blog lain yang pernah ditutup oleh pihak tertentu karena membongkar rahasia sulit 'The Elite'.Walau bagaimanapun pembongkaran misteri ini akan terus dibuat demi menyelamatkan kesucian dan kehormatan Agama Islam. Mungkin banyak yang telah mengetahui perkara ini.Namun sekiranya anda belum mengetahui,silakan cari tahu!!.Ini sangat penting demi memelihara akidah anda.

Subliminal message atau pesan bawah sadar merupakan signal atau pesan yang terdapat dalam media lain, yang dirancang untuk melewati di atas normal pikiran / presepsi manusia. Pesan itu sebenarnya tidak dapat disadari/ diketahui, namun dalam situasi tertentu dapat mempengaruhi pikiran, perilaku, tindakan, sikap, sistem kepercayaan dan sistemnilai secara positif maupun negatif. Istilah bawah sadar berarti “ beneath a limen “ (ambang indrawi). Subliminal berasal dari bahasa Latin, kata sub yang berarti di bawah, dan limen, yang berarti ambang (This is from the Latin words sub, meaning under, and limen, meaning theshold).
Kini kita akan langsung saja yang berhubungan dengan sajadah.Ya, sajadah yang digunakan oleh anda untuk alas solat. Apa yang menariknya disini? Silakan perhatikan dahulu gambar/gambar dibawah :

Master Carpet Freemason1




Freemason - Mater Karpet


Berdasarkan gambar Master Karpet di atas, saya  mengambil tiga cirinya ;
  
 

1 Lantai Catur (hitam/putih)/Checkered Floor



2        Bintang dan Bulan


3)  2 tiang yang dikenali sebagai Joachim dan Boaz.

Sekarang kita akan perhatikan contoh salah satu sejadah yang telah diambil.Silahkan perhatikan baik.baik

Sejadah dengan 3 ciri freemason :



1. checkered floor
2. bulan dan bintang dan
3) 2 tiang (Joachim & Boaz)

Perhatikan sejadah di atas, ia juga mempunyai 3 ciri yang saya nyatakan yiaitu bintang dan bulan, lantai berpetak (checkered floor) dan 2 tiang. bagaiamana ?? percaya tidak percaya simbol2 yahudi itu ada disejadah kita .



uraian beberapa istilah diatas yang berkemungkinan membingungkan anda

1) Freemason

- Freemason dan Illuminati adalah cabang-cabang pertubuhan Dajal Laknatullah.Tiada bezanya di antara dua pertubuhan ini, keduanya menganut agama menyembah Iblis dan Syaitan, mengamalkan sihir dan memuja-muja mistik sesat (antaranya percaya kepada kuasa angka dan bentuk geometri).Namun freemason telah tampil seolah-olah sebuah pertubuhan yang halal dan memperjuangkan kebajikan.Kini ahli mereka berada diseluruh dunia termasuk Malaysia yang rata-ratanya dianggotai oleh golongan elit.

2) Lantai Hitam & Putih/Checkered Floor
- Lantai yang digunakan dalam ritual freemasonry (berpetak hitam-putih)


3) Bulan dan Bintang

- Biasa terdapat dalam logo dan simbol yang digunakan oleh freemasonry,dan turut digunakan didalam ritual penyembahan syaitan.Bulan dan bintang turut digunakan sebagai simbolik keIslaman di kebanyakan negara termasuk Malaysia (walaupun ianya bukan logo Islam)

4) All seeing eye 

- Simbolik/propoganda "The Hidden Hand/Dajjal" seperti yang tercetak dibelakang wang dollar U.S.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selain itu, lihat juga di sajadah berikut ini, betapa banyak nya simbol-simbol yahudi di dalam sejadah masjid masjid kita .



Lihatlah, betapa banyaknya simbol-simbol yahudi yang tersimpan dibalik sajadah yang kita gunakan sehari-hari, .
dan, bukan sampai disitu saja!! ,
tanpa kita sadari ada yang lebih berbahaya lagi,  yakni adanya simbol seks dibalik sejadah tersebut.
perhatikan baik-baik 


Nah sekarang, entah sengaja atau memang tidak tahu, ada gambar yang menampakkan pesan seks pada gambar Sajadah, karpet alas untuk sholat di masjid-masjid. Sajadah sejenis ini sudah tersebar ke masjid-masjid, namun sayang masyarakat/ jama’ah masjid tidak menyadari bahwa karpet/sajadah yang mereka pakai tiap hari bergambar porno.
Mungkin sepintas itu tidak terlihat jelas dan pastinya tidak menyadari bahwa sebenarnya gambar yang kita tahu adalah sebuah pintu ternyata kalau kita perhatikan dengan teliti akan menyerupai (maaf) seperti organ vital laki-laki. Coba perhatikan kembali gambar sajadah atau karpet masjid ! ini seperti sudah di desain sedemikian rapi oleh si pembuat di pabrik pembuat sajadah atau karpet masjid.




Inilah perancangan jahat Yahudi dan Nasrani yang banyak di antara kita tidak mengetahui dan sadar. Mereka akan mnjadikan KITA SESAT DALAM KEADAAN BERIMAN .Walaupun dengan perkara sekecil ini, mereka tetap menjalankan rancangan jahat mereka.
Diharapkan di dalam kehidupan sehari hari , kita semua lebih berhati-hati dan lebih peka setelah membaca artikel ini

" sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Al-Baqarah 109

http://ppnuruliman.com/berita/371-ada-sajadah-bergambar-salib-dijual-di-samping-masjidil-haram.html
http://ppnuruliman.com/berita/371-ada-sajadah-bergambar-salib-dijual-di-samping-masjidil-haram.html


“Man tasyabbaha bi qaumin fahua minhum”.Bermaksud: Barangsiapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka seseorang itu terdiri dari kalangan mereka iaitu kaum berkenaan).

jika catatan ini bermanfaat, silahkan dishare .
maaf , untuk fasilitas TAG di page , sudah tidak bisa lagi. jadi silakan untuk dishare 

Dikutip dari http://hxforum.org/ (Forum Diskusi Sejarah dan konspirasi) dan dari berbagai sumber .

afwan....bwt temen2 yg ber anggapan yang pnting sholat nya bkan sejadah nya emang benar,,,
tapi tujuan dri gambar ini ada di sejadah kita, karna tujuan para yahudi ingin mengesave dlm otak kita akan simbol mereka.
scara tdk lngsung otak kita akan merekam simbol itu, dan perlahan kita akan terus ingat simbol itu lalu ajaran yg mereka bawa akan sangat mudah meresap di otak ini karna sebelum nya kita sudah merekam dr simbol2 yahudi.
afwan...

Dari Aisyah ra ia berkata
Rasulullah saw berdiri untuk sholat di kain yang ada ukirannya, tatkala selesai sholat beliau bersabda: Pergilah kalian dengan kain ini kepada Abi Jahm bin Hudzaifah dan datangkanlah kepadaku dengan kain tebal yang tidak ada ukirannya (anbijansyah), Maka sesungguhnya kain yang ada ukirannya itu telah menggagguku dalam sholat.
bukannya begitu lebih baik...?



Dibolehkan shalat dengan memakai alas, baik berupa tikar, sajadah, kain, atau yang lain nya selama alas tersebut tidak akan mengganggu orang yang shalat
. Misalnya sajadahnya bergambar dan berwarna-warni, yang tentunya dapat menarik perhatian orang yang shalat. Di saat shalat, mungkin ia akan menoleh ke gambar-gambarnya lalu mengamatinya, terus memperhatikannya hingga ia lupa dari shalatnya, apa yang sedang dibacanya dan berapa rakaat yang telah dikerjakannya. Oleh karena itu tidak sepantasnya memakai sajadah yang padanya ada gambar masjid, karena bisa jadi akan mengganggu orang yang shalat dan membuatnya menoleh ke gambar tersebut sehingga bisa mencacati shalatnya". (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/ 362)

------------------------------------------------------------------


saran, kalau ingin beli sajadah, belilah sajadah yang polos atau setidaknya tidak memiliki banyak gambar-gambar .
atau jika sudah terlanjur memiliki sajdah yang bergambar, bisa juga di sajadah itu di alasi dengan kain putih , seperti yang pernah admin liat saat sholat di masjid, "sajdah nya penuh gambar, kemungkinan ta'mir masjid tau kalau sajdah bergambar ini akan mengganggu kekhsusukan dalam beribadah, maka di alasi lah dengan kain putih bersih dibagian ujung-ujung sajadah.

dan satu lagi, pilihlah sajdah yang berukuran kecil. jangan yang lebar,. kenapa ? karena sajadah yang lebar itu orang2 yang menggunakan nya bisa tidak merapatkan shaf2 nya, karena memiliki sajdah yang lebar, yang hanya untuk dia sendiri, al hasil shaff pun tidak rapat .

------------------------------------------------------------------

semoga Allah selalu melindungi kita, dimanapun kita berada.
wallahualam
Demi tujuannya tercapai, ada sebagian Misionaris yang tidak segan segan menggunakan dengan segala cara ,termasuk harus membuat kesaksian bohong.
dan lebih memprihatinkan lagi ,para Misionaris yang menggunakan cara cara dengan kesaksian bohong tersebut mendapatkan tempat yang sangat strategis, dengan diberikan jabatan tinggi dikalangan mereka.
Berikut ini beberapa contoh Misionaris yang terbongkar penipuannya :

1Pendeta Samuel Hermawan,Mengaku Sarjana Islam Terbongkar Kedoknya Bintaro

-Di kalangan Kristen, Pendeta Samuel Hermawan dikenal sebagai ahli islamologi mantan Muslim. Namanya mulai naik daun ketika Samuel menuliskan pengalaman rohaninya mengapa ia beralih meninggalkan Islam dan kini menjadi pendeta. Dalam testimoni berjudul “Yesus adalah Tuhan dan Raja,” Samuel menuliskan sbb:
“Saya dulunya dari muslim tamatan sebuah pesantren dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bandung. Saya ingin memberikan kekuatan untuk para sahabat sekalian orang-orang Kristen bahwa apa yang kalian sembah itu adalah benar-benar Tuhan dan Juruselamat. Yesus adalah Tuhan dan Raja sesuai yang tercantum dalam Al Quran, Hadist dan Injil.” Dalam sebuah dialog Islam dan Kristen, dusta Pendeta Samuel terbongkar. Ternyata dia bukan mantan muslim, terbukti karena ia tidak bisa baca-tulis Al-Qur’an. Pengakuannya sebagai ahli islamologi lulusan pesantren dan Sarjana Islam lulusan STAIN Bandung, adalah kebohongan besar untuk memuluskan Kristenisasi.
Pendeta Samuel mengaku tamatan sebuah pesantren dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bandung…
Bermula ketika Indarwati, bukan nama sebenarnya, yang mempengaruhi kakak kandung, orang tua dan pamannya untuk masuk Kristen.
Empat tahun yang lalu, Indarwati menikah secara Islam dengan seorang pemuda. Seluruh keluarga Indar merestui pernikahan itu, karena beranggapan, sang mempelai pria itu adalah seorang Muslim yang taat beragama.
Belakangan, setelah Indar dikaruniai seorang anak, keluarganya baru tahu kalau suami Indar adalah seorang pendeta. Namun ia tidak mengaku pura-pura Muslim ketika menikah. Kilahnya, kekristenan itu ia terima setelah pernikahan. Kini, Indar sudah berganti iman menjadi aktivis gereja, mengikuti jejak suaminya. Bahkan seorang adiknya berhasil ditarik menjadi seorang Kristen.
Ketika Indar mempengaruhi Eddy, pamannya, untuk masuk Kristen,  terjadilah percekcokan ringan. Eddy paman adalah mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia).
“Kamu ini, kok bisa-bisanya masuk Kristen dan ngajak-ngajak keluarga untuk masuk Kristen?” tanya sang paman.
“Ya.. karena sekarang saya tahu kalau Kristen itu jauh lebih baik dari Islam, paman,” jawab Indra santai.
“Siapa sebenarnya yang mempengaruhimu kok sekarang jadi seperti ini?” tanya sang paman lagi.
“Saya tidak dipengaruhi siapa-siapa, paman. Tuhan Yesus sendiri yang memanggil saya. Sekarang saya tahu bahwa Kristen itu kasih dan menyelamatkan,” terang Indra.
“Apa buktinya kalau Kristen itu menyelamatkan dan lebih baik dari Islam?” selidik sang paman.
“Saya tidak bisa menjelaskan secara detil, paman. Kalau Paman ingin tahu jawabannya, nanti saya panggil pendeta saya. Pendeta Samuel Hermawan adalah ahli islamologi, lulusan pesantren dan STAIN Bandung. Paman bisa bertanya sepuasnya tentang kekristenan kepada pak pendeta,” jawab Indra. Maka disepakatilah pertemuan dialog agama di rumah sang paman.
Ahad malam, 15 November 2009, di Bintaro diadakan pertemuan sederhana. Tapi sang paman tidak mau menghadapi sendiri. Karena penasaran, kok ada lulusan pesantren dan sarjana Islam yang bisa pindah iman, maka ia mengundang sanak saudara dan para tetangga. Tidak lupa, ia mengundang Insan Mokoginta Wenceslaus, ustadz yang mantan Kristen.
Pendeta Samuel Hermawan datang tidak sendirian. Ia itemani beberapa pendeta, pekerja gereja dan beberapa jemaat setianya. Dengan dandanan yang klemis dengan baju  batik coklat yang dikenakannya, ia tampil sangat percaya diri. Seluruh materi islamologi yang akan dipresentasikan sudah disiapkan dalam laptop dan infocus, lengkap dengan seorang wanita operatornya.Dialog dimulai pukul 8 malam, disaksikan lima puluhan pendengar dari kalangan Islam dan Kristen.
Setelah memperkenalkan diri, Samuel mulai menerangkan ketuhanan Yesus berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Puluhan ayat Al-Qur’an ditampilkan di layar infocus. Insan yang sudah tidak asing dengan makalah itu menyela, “Maaf Pak Pendeta, paparan yang anda tampilkan itu sebenarnya bukan pemikiran anda. Anda hanya mengutip brosur Kristen “Rahasia Jalan ke Surga” yang memakai nama penerbit palsu Dakwah Ukhuwah. Saya sudah menjawabnya dalam buku “Muallaf Membimbing Pendeta ke Surga” tahun 1999.
Meski tak bisa membantah bahwa presentasi makalahnya sama persis dengan brosur Dakwah Ukhuwah, Samuel kekeuh menyangkalnya, dan terus melanjutkan ceramah.
“Yesus alias Nabi Isa adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa Yesus bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir. Bahkan Yesus bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Mari kita renungkan. Selain Tuhan, siapa yang bisa memberi nyawa kepada orang mati. Karena Yesus bisa menghidupkan orang mati, maka dia adalah Tuhan,” jelasnya.
Insan membantah, “Saya tahu, ayat Al-Qur’an yang anda maksudkan adalah surat Ali Imran 49 dan Al-Ma’idah 110. Tapi ayat ini jangan dibaca sepotong saja. Bila dibaca secara utuh, seluruh mukjizat Nabi Isa itu selalu diiringi dengan kalimat ‘bi-idznillah’ yang artinya dengan seizin Allah. Jadi, seluruh mukjizat itu bukan karena kehebatan Nabi Isa, tapi karena izin dan pemberian Allah. Karenanya, yang menyembuhkan dan menghidupkan itu bukan Nabi Isa, melainkan Allah SWT,” katanya.Samuel tak dapat membantah argumen ini, lalu beralih ke pembicaraan lain. Ia menyatakan bahwa menurut Injil Lukas, tidak semua perbuatan Yesus ditulis dalam Injil. Karena tidak ada kitab yang bisa memuat seluruh ajaran Yesus.
“Tolong Pak Pendeta baca, Injil Lukas yang anda maksud tersebut!” tanya Insan menimpali. “Wah, saya tidak hafal ayatnya, Pak,” jawabnya singkat.“Tolong pendeta yang lain atau jemaat membaca Injil Lukas yang dimaksud,” tanya Insan kepada jemaat Kristen. Karena tak mendapat jawaban apapun dari pihak Kristen, maka Insan menjawab pertanyaannya sendiri.“Sebetulnya, ayat yang dimaksudkan Pendeta Samuel itu bukan Injil Lukas, tapi Injil Yohanes 21:25. Kalau tidak percaya silakan baca ayat tersebut,” Insan mempersilakan. Jemaat pun membaca ayat yang dimaksud, ternyata betul. Mereka semakin gusar.
Ternyata Sarjana Islam Gadungan
Ketika ingin membuktikan ketuhanan Yesus sebagai orang yang tahu hari kiamat, Samuel mengutip terjemahan Al-Qur’an surat Luqman ayat 34: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.”Penasaran dengan banyaknya kutipan ayat yang hanya dibaca terjemahannya saja, Insan minta Samuel untuk membaca nas Arabnya.
Nyalinya runtuh ketika dites membaca nas Arab Al-Qur’an. Ternyata Pendeta itu bukan lulusan pesantren karena tidak tahu baca-tulis huruf Arab…
“Pak Pendeta, dari tadi anda hanya membaca terjemahan ayat tanpa membaca nas Arabnya. Anda kan ngaku lulusan pesantren dan sarjana Islam, tolong baca nas Arabnya!” pintanya.
Tak disangka, permintaan Insan ini meruntuhkan nyali sang pendeta. Beberapa menit ia hanya memandangi presentasi di layar in focus. Mulutnya terkatup, sesekali ia memandangi jemaatnya, dan sesekali menundukkan wajahnya yang mulai memucat.
Jemaat dan para pendeta yang hadir pun nampak gusar, malu dan salah tingkah di hadapan puluhan hadirin Muslim. Pendeta Samuel Hermawan yang selama ini mereka elu-elukan sebagai ahli islamologi, lulusan pesantren dan sarjana Muslim, ternyata tak lebih pintar dari siswa TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Sementara hadirin dari pihak Islam sebagian tertawa, sebagian geleng-geleng dan sebagian bertepuk tangan. Mereka terheran-heran terhadap Samuel Hermawan yang ditokohkan dan dihormati di gereja, padahal mereka selama ini dicekoki dengan kesaksian dusta.
“Pak Samuel ini aneh sekali. Bagaimana bisa jadi pendeta dan mengaku ahli islamomogi? Padahal anda tidak menguasai Bibel dan tidak paham Al-Qur’an? Mana mungkin anda bisa memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk kepentingan kristenisasi, padahal anda tidak mengerti baca-tulis Al-Qur’an? Tolong anda beragama yang jujur saja, jangan menipu jemaat” kata Insan menasihati.
Situasi dialog jadi tidak imbang, Insan yang jauh di atas angin, seperti dosen menceramahi anak SD. Tepat pukul 10 malam acara diakhiri, tuan rumah mempersilakan seluruh hadirin untuk menikmati makan malam yang sudah disediakan secara mewah. Terlanjur malu, Pendeta Samuel dan seorang pendeta lainnya buru-buru pamitan pulang meninggalkan para jemaatnya yang sudah membaur bersama hadirin lainnya di meja hidangan.
Seorang peserta yang sangat kecewa terhadap Pendeta Samuel berkomentar, “Katanya lulusan pesantren dan sarjana Islam, gak tahunya seperti ayam sayur,” kata pria berusia 60 tahun yang datang jauh-jauh dari Depok, Jawa Barat. Ternyata Pendeta Samuel adalah “Drs” alias durung rampung sekolah, toh. [taz/voa-islam]
2. Pendeta Yusuf Roni
Ngakunya dia bernama lengkap Kemas Abubakar Masyhur Jusuf Roni asli kelahiran Palembang 6 Desember 1946. Kakeknya bernama

kemas a. roni tokoh islam terkenal di Palembang silsilah lengkapnya kemas Abubakar Mashur Jusuf
roni bin Kemas M toha Roni bin Kemas A.Roni bin Kemas Nanang Abdul Halim bin
Kemas Abang bin kemas Amijoko bin Demang Singojudo Wirokencono bin Daeng
ario Wongso bin Tumenggung Nogowongso bin pageran Fatahillah dan seterusnya.
Masa kecilnya
Jusuf Roni dididik dgn disiplin yg keras di tengah-tengah keluarga islam.
Maka jadilah dia seorang muslim yg fanatik ketika keluarganya pindah ke
Bandung dia masuk ke pesantren YPI (yayasan pendidikan Islam) JL. Muhammad
16 Bandung yg di pimpin oleh KH. Udung Abdurrahman. Ngakunya pula sebelumnya
menjadi Kristen Jusuf Roni adalah aktifis muslim yg gigih memperjuangkan
Islam dalam kesempatan apapun termasuk membendung perkembangan agama Kristen
di Jawa Barat buktinya dulu dia  memiliki seabreg jabatan di dunia dakwah
antara lain :
1. Ketua umum Serikat Pelajar Muslim Indonesia  (SEMPI) kabupaten Bandung
ketua 1 SEMPI wilayah Jawa Barat, ketua lembaga dakwah SEPMI pusat
2. Ketua serikat Pendidikan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) Bandung
3. Angota Gerakan Ulama Syarikat Islam Indonesia (GUSII) wilayah Jawa Barat
4. Ketua seksi dakwah dan pers Pemuda Muslim Indonesia wilayah Jawa Barat
5. Angota dewan pimpinan harian daerah (DPHD) Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar
Indonesia (KAPPI)  konsulat Jawa Barat
6. Pernah jadi juri MTQ tingkat nasional
7. Pernah di didik di pesantren sampai aliyah, IKIP dan Universitas Islam
Indonesia
8. Pernah menjadi wakil sekertaris jendral organisasi islam sedunia. Namun
selama beragama islam dia tidak pernah mengalami kepuasan rohani hidupnya
selalu gelisah tidak tenang dan selalu diliputi oleh tanda Tanya seputar
kepastian keselamatan. Dalam situasi itulah akhirnya dia terpikat oleh
doktrin ”keselamatan yang pasti” dalam kristus bahwa dosa manusia sudah di
tebus oleh Yesus yang mati tragis di atas gantungan tiang salib.
TERNYATA BOHONG SEMUA……….BOHONG BESAR !!!
Kesaksian yang indah dan memikat itu sempat menggegerkan umat karena di
tobatkan di gereja-gereja lalu kesaksian tersebut direkam dan diedarkan ke
kalangan muslim di Kalimantan, Surabaya, Bandung, Jakarta, Malang dan
beberapa kota besar lainnya. Tetapi ternyata …pendeta Jusuf Roni berbohong
dalam kesaksiannya. Bohongnya tak tanggung tanggu!!!ng besar …sekali..
1. Berdasarkan surat keterangan dari pusat administrasi akademi IKIP bandung
NO.259 P.T 25R.II 4/0/1979 tertanggal 22  Mei 1979 Jusuf Roni tidak pernah
tercatat sebagai mahasiswa IKIP Bandung.
2. Surat rector Universitas Islam Indonesia Nusantara Bandung
NO.78/R-UIN/D/V91997 tertanggal 2 september 1979 Jusuf Roni pun tidak pernah
tercatat sebagai mahasiswa UIN Bandung.
3. Surat kepala kantor direktorat jendral bina tuna warga Bandung no
P.R.II.LL/D.P/2383/79 tertanggal 22 mei 1979 menyatakan bahwa Jusuf Roni
sudah pernah meringkuk di penjara Banceuy Bandung dalam kasus tindak pidana.
Jadi Jusuf Roni adalah seorang recidivist.
4. Jusuf roni bukan asli Palembang tapi berdarah campuran asing
5. Mustahil menjadi juri MTQ ketua lembaga dakwah wakil sekjen organisasi
Islam sedunia karena Jusuf Roni ternyata tidak bisa baca Alquran tidak tahu
tata cara dan doa-doa shalat tidak hafal surat alfatihah.
Maka tidak heran bila akhirnya pada tanggal 19 juli 1979 pengadilan negeri
Jakarta pusat memutuskan hukuman 6 tahun penjara karena terbukti melakukan
tindak pidana subversi sebagaimana yg diatus dalam pasal 1(1) ke 1 sub c
undang undang no. 11/PNPS/1963. Itulah profil Jusuf Roni pendeta recidivist yg kini menjadi rector Apostolos

3.Ali Makrus
mengumbar klaim latar belakangnya  sebagai :
-Seorang habib Keturunan Nabi SAW
-Seorang mantan Ketua Tim Pemburu Hantu Lativi
-Anggota Front Pembela Islam (FPI)

dan ia menyataan telah keluar dari agama Islam, lalu memeluk agama Kristen, dan mengeluarkan sejumlah kesaksian menghujat, memfitnah, dan mencaci maki Islam, yang kemudian sengaja direkam oleh umat Kristen dan disebarluaskan ke seluruh Indonesia bahkan dunia, tentu saja lewat media internet!!
Siapakah Ali Markus
Lahir di Bangil, Jawa Timur 29 Maret 1962, Ali Makhrus bernama asli Markus. Sejak kecil Markus (kini Makhrus) dididik dan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Ayahnya, M. Yusuf (60) tahun adalah seorang pendeta yang kini masih aktif di GSJA (Gembala Sidang Jemaat Allah), Jalan Pogot Surabaya.  Selain itu juga memiliki jemaah di gereja GPPS Sepanjang, Surabaya.
Selain ayah dan ibunya yang seorang aktivis gereja, kakak dan pamannya, semuanya adalah seorang pendeta.
Saat remaja, Makhrus dikirim sang ayah untuk melanjutkan studi di Sekolah Teologi (STH) Gereja Tuhan, Medan dan lulus tahun 1989. Lulus kuliah ia lantas ditugaskan di gereja Bethani dan GSJA Surabaya.
Kegundahan keyakinan membuat pria lima anak ini memeluk Islam di tahun 1989. Sayangnya, dalam kondisi ekonomi yang sulit dan tanggungjawab sebagai ayah, godaan ekonomi membuat ia menerima tawaran gereja untuk kembali sebagai seorang misionaris.
Tanggal 12 Oktober 2005 silam, datang menemui KH Abdullah Wasi’an dirumahnya, di Sidoarjo, Jawa timur. Kepada kristolog kondang itu, Markus menyatakan niatnya untuk pindah agama dari Kristen ke Islam. Alasannya setelah membaca buku KH Abdullah Wasi’an yang berjudul Benteng Islam terbitan Pustaka Dai, ia jadi tertarik dengan islam.
Dengan berbaik sangka, mendengar paparan Markus yang sangat memukau itu, KH Abdullah Wasi’an pun menuntun pensyahadatan Markus tepat pukul 11.00 WIB. Syahadat itupun ditandai dengan surat keterangan sementara yang ditandatangai oleh KH Abdullah Wasi’an dan beberapa saksi. Usai pensyahadatan, Pendeta Markus pulang dengan disangoni uang tunai. Nama Islamnya pun menjadi Makhrus.
Namun setelah majalah Modus melakukan pengecekan secara mendetail pada bulan November 2005 lalu, ditemukan sejumlah kebohongan pada Pendeta Markus Margiyanto. Diantaranya, alamat KTP-nya di Jl. Pogot Lama II/91 RW 06/05 Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya ternyata tidak benar. Karena rumah itu telah dijual lima tahun lalu kepada Sutarso. Sutarso pun mengaku tidak tahu menahu tentang seluk beluk dan aktivitas Markus.
Sementara itu, Darmo, tetangga depan rumah Sutarso yang tinggal di sana sejak tahun 1980 mengatakan bahwa yang berprofesi sebagai pendeta itu adalah ayahnya Markus. Setelah ditelusuri, ternyata markus bersama keluarganya yang terdiri dari anak, istri, ibu dan adiknya tinggal di Tanah merah II/22, Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya. Rumah yang sempat difungsikan sebagai gereja ini asalnya adalah milik Pendeta Petrus Salindeho yang pernah bermasalah dengan umat islam hingga divonis hukuman penjara, beberapa tahun lalu.
Tak jauh dari rumah Markus di Tanah Merah itu, tinggallah Ustadz Ahmad Ghazali, salah seorang tokoh masyarakat yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris PC NU Surabaya. Ustadz Ghazali tahu persis daftar penipuan Markus yang bermodus ingin masuk islam dihadapan tokoh Islam lalu mendapat simpati sang tokoh hingga mendapat hadiah sejumlah uang dan materi lainnya.
Beberapa kiai yang sempat didatangi Markus, antara lain KH Miftah, di Kedung Tarukan Surabaya yang akhirnya menyumbangkan uang tunai Rp. 250.000 dan sarung merek Al-Ma’ruf berharga ratusan ribu. Ada juga KH Asep mantan ketua PC NU Surabaya, KH Abdul Syakur, KH Abdurrahman Navis dan lainnya.
Masrukin adalah salah seorang korban penipuan Markus. Dia adalah pengurus Masjid Nurul Jannah Kalilom, Surabaya. Kira-kira empat tahun lalu, Markus Margiyanto datang ke Mesjid Nurul Jannah dan menyatakan niatnya untuk masuk islam. Diapun disyahadatkan oleh Ridwan, modin setempat.
Setelah masuk islam, karenat tidak punya rumah, Markus pun butuh rumah tinggal. Dengan ikhlas, Masrukin memberikan salah satu rumahnya yang baru selesai dibangun untuk ditempati Markus secara Cuma-Cuma. Diapun tinggal dirumah itu bersama istrinya, Muslimah anak seorang kiai di Singosari, Malang.
Selama di rumah Masrukin, Markus sama sekali tidak bekerja untuk menafkahi anak dan istrinya. Kebutuhan sehari-harinya ditanggung oleh jamaah mesjid, terutama oleh keluarga Masrukin. “Mualaf itu bagi orang islam merupakan aset,” alasan Masrukin. Jamaah Masjid pun simpati dengan keislaman Markus, sehingga segala permintaannya dikabulkan jamaah. “Jamaah masjid sini sudah banyak berkorban materi, tenaga dan pikiran untuk Markus,” imbuh Masrukin.
Suatu saat, Masrukin merasakan ada gelagat yang lain karena setiap hari Minggu, pagi-pagi Markus pergi memakai baju yang rapi. “Ternyata Markus pergi ke Gereja,” kata Masrukin. Maka Markuspun dia usir dari rumahnya. Setelah pindah dari Kalilom, Markus melancarkan penipuan yang sama dengan modus pura-pura masuk islam untuk mendapat simpati dan uang dari jamaah masjid di Tanah Merah, Surabaya.
Jauh sebelum melancarkan aksinya di Surabaya. Pendeta Markus pura-pura masuk islam dan nyantri di PIQ Singosari Malang dibawah asuhan KH Bashori Alwi. Karena sudah dipercaya, dia dijadikan menantu oleh KH Ahmad Rifai, pengasuh sebuah pesantren di Singosari, Malang. Namun setelah mempunyai dua anak Markus memboyong anak-anak dan istrinya ke Jakarta lalu mengkristenkan semuanya.
Dalam pengakuannya kepada tim FAKTA Surabaya, Markus mengungkapkan bahwa ceramah-ceramahnya yang menghina islam itu berdasarkan pesanan gereja. Dia juga mengaku ditekan oleh bapaknya dan paman-pamannya yang pendeta. “Apa yang saya ungkapkan di VCD itu adalah rekayasa palsu pihak gereja,” kata Markus kepada Masyhud, ketua tim FAKTA Surabaya.
Selain tekanan gereja, Markus juga rela memberikan kesaksian-kesaksian palsu tentang islam, karena alasan ekonomi dan dorongan finansial. “Pihak gereja sengaja memanfaatkan saya untuk membenturkan islam dengan kristen,” beber pendeta yang memiliki 20 tempat pemuridan tersebut. Yang dimaksud tempat pemuridan adalah semacam tempat pembinaan dan pendidikan Islamologi bagi umat kristen.
Markus juga menyebutkan bahwa pihak gereja sengaja menyebarkan VCD ceramahnya itu untuk menghina umat islam. Posisinya sebagai mantan orang islam yang memberikan kesaksian palsu tentang islam, bagi gereja akan lebih mengena. Walau demikian, dia mengaku masih tetap seorang muslim, bukan murtad. Tentu saja kesaksiannya ini masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut.
Sudah banyak yang menjadi korban penipuan Pendeta Markus Margiyanto. Penipuan bermodus pura-pura masuk islam ini sungguh berbahaya. Jika setiap saat bersyahadat di hadapan tokoh islam untuk mendapat simpati dalam bentuk materi, maka jelas bahwa “penipuan berkedok masuk islam” adalah profesi Pendeta Markus.
4.Muhammad Filemon
Heboh VCD Zainuddin MZ Kesaksian di Rumah Makan
USIANYA 50-an tahun, berperawakan sedang, berkulit kuning. Ia mengaku keturunan Arab. Itulah Muhammad Filemon. Gaya bicaranya menggebu-gebu. Setelah peredaran VCD yang memuat pengakuannya telah membaptis K.H. Zainuddin MZ, Filemon tampak ketakutan. HP yang biasa ia gunakan tak pernah lagi dibawanya.
Tapi, kisah Filemon bisa kita dapat dari H. Insan LS. Mokoginta, 54 tahun. Wiraswastawan asal Manado, Sulawesi Utara, yang sejak tahun 1980 masuk Islam ini sering mendapat keluhan dari temannya bernama Agus. Menurut Insan, Agus yang beragama Islam, sering berdiskusi soal agama dengan salah seorang anak buah Filemon. Karena anak buah Filemon itu sering mengutip ayat-ayat suci Al-Quran, iman Agus jadi goyah.
Karena penasaran, Agus mengajak Insan –yang dianggap paham ajaran Islam– untuk berdiskusi dengan anak buah Filemon. Waktu dan tempatnya ditentukan, di Rumah Makan Pondok Laras, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pada 4 Mei 2003, pukul 15.00 WIB.
Insan tak hanya bersama Agus. Ia mengajak Ustad Afdil Salim dan Jamil, dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, serta Abu Mumtaz dari Majalah Bidik. Dalam pertemuan tersebut, Insan berpura-pura sebagai orang yang sedang mencari kebenaran, dan belum paham tentang ajaran agama Islam.
Di luar dugaan, Filemon hadir dalam pertemuan itu. Ia datang bersama 12 jemaatnya. Filemon mendapat giliran pertama. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk memberi kesaksian, tentang mengapa ia akhirnya memilih Nasrani sebagai jalan hidupnya, pada 1994. Menurut Filemon, ada tiga alasan. Pertama, ia sangat kecewa dengan kakeknya yang kawin-cerai, sampai delapan kali.
Kedua, ketika ia berada dalam penjara karena telah melakukan jihad. Tapi ia tak menyebutkan jihad tentang apa dan di mana ia dipenjara. Di dalam penjara itu Filemon mengaku satu sel dengan penganut Nasrani. Filemon, yang perokok berat, kemudian mengumpulkan puntung-puntung rokok dalam penjara untuk diambil tembakaunya dan dilinting ulang.
Karena tak ada kertas, Filemon melinting dengan menggunakan kertas yang ia sobek dari Alkitab milik teman satu selnya. Ketika rokok lintingan itu diisap, ia batuk-batuk tidak ketulungan. Teman satu selnya itu kemudian mengobatinya dengan doa-doa secara Kristiani. Batuknya berhenti dengan sendirinya. Ketika sisa lintingan rokok itu dibuka, dalam kertas ada tulisan, “Bertobatlah kamu karena Kerajaan Allah sudah semakin dekat.”
Adapun alasan ketiga, Filemon berfikir bahwa semua ajaran agama sama. Ia memilih memeluk Nasrani.
Selama memberikan kesaksian sekitar 45 menit itu, Filemon sesekali mencuplik ayat Al-Quran dan kutipan dalam bahasa Arab. Tapi lafalnya yang salah. Misalnya “Lakum dinukum waliyadin”, diucapkan “Lakum dinakum waliyabin”. “Alaihi salam” diucapkannya “Aliyul salam”
.
Setiap kali Filemon salah melafalkan ayat atau kutipan dalam bahasa Arab, Ustad Afdil Salam selalu membetulkannya. Ketika Jasmin menyodorkan Al-Quran Surah Al Ikhlas untuk dibaca, raut muka Filemon berubah. “Aduh, sudah nggak bisa,” Filemon menolak.
Setelah itu, suasana pertemuan jadi tidak nyaman. Diskusi belum berjalan sebagaimana dijadwalkan, Filemon sudah enggan meneruskannya. “Saya nggak nyangka jadi begini. Saya tidak bisa meneruskan diskusi ini, saya ada acara,” kata Insan menirukan ucapan Filemon.
Pertemuan yang direncanakan 3 jam itu diakhiri pada menit ke-55. Filemon bersama jemaatnya lalu meninggalkan rumah makan, padahal menunya belum selesai ia santap. Karena materi pembicaraan dinilai belum tuntas, Insan berusaha melakukan dialog lagi. “Tapi, Filemon sulit sekali dihubungi,” ujar Insan.
“Ternyata ia tak bisa membacanya,” kenang Insan kepada Rini Sulistyowati dari GATRA. “Masak, orang yang mengaku di rumah berbahasa Arab dan pintar mengaji tiba-tiba nggak bisa?” tanya Insan. Tentu, sebaiknya Filemon menjawab pertanyaan ini.
Herry Mohammad [Laporan Utama, GATRA, Nomor 27 Beredar Senin 19 April 2003] Ergun Caner, seorang pemuka agama Kristen Baptis di AS, setelah kebohongannya terbongkar.
Caner yang sekarang menjabat sebagai dekan Liberty Baptist Theological Seminary di Lynchburg, Virginia selama ini mengaku sebagai mantan seorang muslim radikal yang kemudian masuk Kristen. Cerita ini berawal ketika Caner dan saudara lelakinya yang diklaim bernama Emir, menerbitkan sebuah buku berjudul“Unveiling Islam: An Insider’s Look at Muslim Life and Beliefs”, tak lama setelah peristiwa serangan 11 September 2001 di New York dan Washington DC.
Dalam buku itu, Caner mengklaim pernah menjadi seorang muslim yang radikal di masa remajanya dan pernah mengikuti pelatihan teroris di Turki sebelum berimigrasike AS. Caner juga mengaku “menemukan” Yesus Kristus di sebuah gereja di Ohio yang membuatnya memutuskan untuk pindah agama menjadi seorang Kristiani.
Buku itulah yang membuat nama Caner jadi sangat terkenal, sehingga ia berhasil mendapatkan jabatan sebagai dekan di Liberty Baptist Theological Seminary di Lynchburg, Virginia pada tahun 2005, padahal pengakua Caner sebagai mantan muslim radikal dalam buku yang ditulisnya, cuma kebohongan semata.
Sejak dirinya terkenal sebagai pemuka agama Kristen Baptis, Caner kerap mengkritik Islam dan justru pernyataan-pernyataan serta cerita-cerita Caner yang kontradikti, yang kemudian membuat banyak orang meragukan pengakuannya tentang masa lalunya.
Laporan-laporan yang muncul menunjukkan bahwa Caner dan keluarganya pindah ke Ohio sejak Caner masih anak-anak–mustahil pada usia anak-anak ia mengikuti pelatihan teroris, seperti yang diklaimnya–dan kata-kata dalam bahasa Arab yang seringkali diucapkan Caner dalam khutbah-khutbahnya ternyata cuma “ocehan” yang tak jelas artinya.
Setelah kebohongan Caner terbongkar, Penangggung Jawab Universitas Liberty, Jerry Falwell Jr. berinisiatif untuk melakukan penyelidikan atas perilaku Caner yang hasilnya akan diketahui bulan ini juga. Ayah Jerry, mantan penanggung jawab dan pendiri Liberty Baptist Theological Seminary adalah salah satu tokoh Kristen yang juga sering menjelek-jelekkan agama Islam dan Nabi Muhammad Saw. Jerry Falwell Sr. meninggal pada tahun 2007.
Sementara Caner harus menerima konsekuensi atas kebohongannya. Ia dikecam habis-habisan, disebut sebagai seorang oportunis yang hanya ingin menimbulkan ketegangan antara penganut Kristen dan Islam. Sejumlah pengamat mengatakan, cara Caner mendapatkan popularitas menunjukkan bahwa cerita-cerita tentang orang Islam yang pindah agama ke Kristen menjadi cerita yang penting dan mengagumkan bagi banyak kalangan penganut Kristen di Amerika sekarang ini.
Welcome to My Blog

follow me

terjemahkan halaman ini

- Copyright © spizaetuz bartelsi - Powered by Blogger -