Posted by : Unknown
Sabtu, 19 Juli 2014
Menabuh selubung ruh dari dara
Satu, sebelum menandai sebuah ilusi
Jiwa itu bergemuruh riuh nan jauh
Sesudah pena bergelut dengan waktu
Sepintas bahtera memandang sayu
Lalu berbisik, “dimana aku dalam pandang?”
Serpihan kecil yang kau bawa dalam tak sadarmu
Senyum fatamorgana absurd yang palsu
Dari kata yang sering berkelut muak
Dari kebenaran sang arwah cinta
Mengenai sayap-sayapnya yang runtuh
Sepertiga malam yang menyatu kemarin
Dengan sebuah khayal kecil, mungil
Mencekam, sementara do’a melayang
“mimpiku
terhempas pada sebuah nama
Agar menangkap serpihan kecil itu
Dan menyingsingkan rasa
Dari kita yang lain”
Entah kapan
